Haloo guys, whats up?!
Seperti biasa, sudah jam 4 dini hari mata masih belum bisa diajak kompromi.
Kali ini Abo (ketungau : panggilan untuk paman) mau bahas tentang rajah tubuh nih. Teman-teman tahu tato? Ya itulah dia...
Sebelumnya...ehm.. siapkan bekal dulu (kopi + rokok). Yep..sudah siap semua..
Oke mulai dari mana ya? Oh iya, kata “tato” berasal dari kata Tahitian / Tatu, yang memilki arti : menandakan sesuatu. Rajah atau tato (Bahasa Inggris: tattoo) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Dalam istilah teknis, rajah adalah implantasi pigmen mikro.
Rajah merupakan praktik yang ditemukan hampir di semua tempat dengan fungsi sesuai dengan adat setempat. Rajah dahulu sering dipakai oleh kalangan suku-suku terasing di suatu wilayah di dunia sebagai penandaan wilayah, derajat, pangkat, bahkan menandakan kesehatan seseorang. Rajah digunakan secara luas oleh orang-orang Polinesia,Filipina, Kalimantan, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Mesoamerika, Eropa, Jepang, Kamboja, serta Tiongkok. Walaupun pada beberapa kalangan rajah dianggap tabu, seni rajah tetap menjadi sesuatu yang populer di dunia.
Di atas barusan kutipan dari wikipedia. teman-teman mungkin sedikit tahu ya mengenai kebudayaan kita? Yep, rajah ini masih dianggap tabu oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Katanya berbeda-beda tapi satu, Bhineka Tunggal Ika, helooo??? You guys have no idea, Kalimantan punya kebudayaan itu, rajah sudah dari turun temurun dilakukan oleh masyarakat Dayak asli sebagai tanda kedewasaan. Apa salahnya? Apa karena mereka berbeda, astaga... Ini adalah satu kekurangan pengetahuan orang-orang di Indonesia, karena mereka tidak mengerti budaya maka mereka menganggap hal tersebut tabu dan aneh.
Tapi ada berita baik, sekarang rajah tubuh sudah bisa diterima oleh sebagian orang-orang khususnya remaja. Meski sebagian besar orang tua menganggap bahwa jika anaknya tatoan seperti tidak punya moral, tubuh bagus-bagus malah ditato macem-macem. Dianggap preman pasar, mau jadi jagoan, bajingan dsb. oalah....
Orang tua memang seperti itu, tujuannya supaya anak dapat yang terbaik. Tapi anak kan punya kepala sendiri, mungkin yang benar adalah pengarahannya saja.
Balik lagi ke rajah, Abo sendiri menganggap rajah bukan hal yang buruk, bahkan bisa diterima kok. Meskipun Abo sendiri tidak melakukan hal tersebut (ada alasan tersendiri). Dan menurut Abo, motif rajah yang paling keren adalah motif milik suku Dayak. Kenapa begitu? Karena motifnya diambil dari bentuk-bentuk alam seperti tanaman, hewan, mahluk astral dll.
Abo tunjukin nih salah satu motif milik teman Abo..
Yang punya namanya Leopold, atau biasa dipanggil Gondes (piss ndess, eh yo). Nah yang lain udah modern motif rajahnya.
Nah yang itu punya bang Welly Banaga, maaf belum punya pose bagus jadi "itunya" kelihatan sedikit ya gapapa :P
Adalagi nih, banyak teman-teman Abo yang punya rajah.
Ini miliknya Kriss, atau biasa disapa Tingel. Beliau gitaris senior di Asrama Abo.
Yang ini milik Perdi, motifnya sudah lebih modern lagi. Dan yang di bawah punya Ucis, motifnya ya kurang lebih sama seperti milik Perdi.
Itu dia teman-teman mengenai rajah tubuh, jadi bukannya rajah itu memberikan pengaruh negatif sebagai alasan bahwa hal tersebut tabu. Melainkan dari masing-masing orang memiliki alasan dalam mengambil keputusan tersebut dan tidak mengurangi moralnya dikehidupan bermasyarakat. Mungkin mereka bertato, bertindik, penampilan aneh, tidak karuan, tapi guys, masyarakat tidak berhak menghakimi karena hal tersebut. Yang menentukan itu sikap sosialnya bagaimana kalian menjalani hidup di masyarakat.
oke ya, sekian dulu postingan saya. Sebagai tambahan untuk hiburan ini ada beberapa gambar lagi dari teman-teman Asrama IPMKS (ini antisipasi sebelum diminta karena tatonya gak dipajang)













No comments:
Post a Comment